Cerita dari Rimpu Mantika 2026: Kompaknya Pendidik SDN 37 Kendo dalam Balutan Tradisi"
KOTA BIMA– Sabtu pagi, 25 April 2026, mentari baru saja menyapa ufuk timur ketika ruas jalan di depan Toko Larisi mulai dipadati oleh lautan manusia berbaju tenun. Di antara ribuan peserta, tampak rombongan "SDN 37 Kendo Kota Bima" tampil menonjol dengan semangat yang membara untuk menyemarakkan gelaran budaya tahunan paling bergengsi: **Pawai Rimpu Mantika 2026**.
Manifestasi Identitas Budaya Mbojo
Kehadiran SDN 37 Kendo Kota Bima bukan sekadar partisipasi formalitas. Di bawah komando langsung Kepala Sekolah, **Bapak Agussalim, S.Pd.I**, seluruh tenaga pendidik dan kependidikan sekolah tersebut tampil totalitas dalam balutan tenun kebanggaan masyarakat Bima.
Para guru laki-laki tampak gagah mengenakan setelan tenun khas Bima yang dipadukan dengan *Sambolo* (ikat kepala tradisional) yang melambangkan kewibawaan. Sementara itu, para pendidik perempuan tampil sangat anggun dengan balutan *Rimpu*. Seni melilitkan kain sarung nggoli ini menjadi simbol kehormatan dan kearifan lokal yang tetap dijaga kelestariannya di tengah arus modernisasi.
"Hari ini kami hadir untuk membuktikan bahwa identitas sebagai orang Bima tidak boleh luntur. Rimpu dan Sambolo adalah identitas, dan kami sebagai pendidik harus menjadi contoh terdepan bagi generasi muda dalam mencintai budaya sendiri," tegas **Bapak Agussalim** dengan penuh semangat di lokasi titik kumpul.
Disiplin dan Manajemen Barisan yang Rapi
Sesuai dengan hasil Keputusan Rapat koordinasi pada Selasa, 21 April 2026, rombongan SDN 37 Kendo Kota Bima telah menunjukkan kedisiplinan tinggi. Tepat pukul 06.30 WITA, barisan telah tertata rapi di titik kumpul utama.
Rombongan sekolah bergerak mengikuti formasi protokoler yang telah ditetapkan: diawali oleh barisan Dinas Dikpora di posisi paling depan, disusul barisan Pengawas, dan kemudian diikuti oleh sekolah-sekolah. Bapak Agussalim selaku Kepala Sekolah memimpin langsung di garda depan barisannya, memastikan setiap personel berjalan dengan tertib sambil membawa spanduk identitas sekolah yang berkibar dengan bangga.
Strategi Pembelajaran dan Kepedulian Lingkungan
Meskipun seluruh tenaga pendidik terjun ke jalan, SDN 37 Kendo Kota Bima memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi. Sesuai instruksi, siswa-siswi jenjang SD diberikan kebijakan untuk **belajar di rumah**. Hal ini berbeda dengan jenjang SMP yang dilibatkan secara penuh untuk memperkuat barisan pawai.
Namun, ada satu hal yang membuat Pawai Rimpu Mantika tahun ini terasa berbeda dan lebih "keren". SDN 37 Kendo Kota Bima secara ketat menerapkan gerakan ramah lingkungan selama rute pawai berlangsung:
1. Zero Waste Plastic: Setiap peserta diwajibkan membawa *tumbler* berisi air minum sendiri dari rumah, meminimalkan penggunaan botol plastik kemasan.
2. Aksi Pungut Sampah: Tidak hanya berjalan kaki, para guru juga membekali diri dengan tas plastik (kresek) untuk memungut sampah di sepanjang rute yang dilewati.
Langkah ini membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan pelestarian alam. Rombongan SDN 37 Kendo Kota Bima berhasil menyita perhatian publik tidak hanya karena keindahan pakaian tenunnya, tetapi juga karena ketertiban dan kebersihan yang mereka tunjukkan di sepanjang jalan Kota Bima.
Penutup yang Berkesan
Pawai Rimpu Mantika 2026 berakhir dengan sukses besar. Keikutsertaan SDN 37 Kendo Kota Bima menjadi catatan sejarah penting tentang bagaimana sebuah institusi pendidikan mampu menerjemahkan nilai-nilai tradisional ke dalam aksi nyata yang disiplin, religius, dan berwawasan lingkungan.
Hingga garis finis, senyum merekah di wajah para pendidik SDN 37 Kendo Kota Bima. Mereka tidak hanya membawa pulang rasa lelah, tetapi juga rasa bangga karena telah menjadi bagian dari sejarah besar pelestarian budaya Bima di tahun 2026 ini. BRL